Kalimat Bijak :

Wednesday, January 29, 2014

Potensi beberapa Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai bahan baku Biodiesel (1/2)




Kata kunci :     Hasil, Hutan, Biodiesel, Kepuh (Sterculia foetida),
                           Kesambi (Schleichera oleosa Lour),
                           Nyamplung (Callophyllum inophyllum Linn).

Pendahuluan

Pemerintah melalui undang-undang Nomor 30 tahun 2007 menetapkan untuk mengembangkan sumber enegi terbarukan, termasuk penelitian dan pengembangan untuk diversifikasi sumber-sumber energi terbarukan tersebut. Pemerintah juga telah menetapkan untuk mengurangi peran minyak bumi dari 52% menjadi 20%, dan sebaliknya peran energi terbarukan akan ditingkatkan menjadi sekitar 20% pada tahun 2025 (Anonim, 2006).


Program pengembangan sumber energi terbarukan khususnya biodiesel dilatarbelakangi oleh kebutuhan bahan bakar minyak yang semakin meningkat, sementara persediaan minyak bumi semakin menipis. Peningkatan kebutuhan bahan bakar minyak dari tahun ke tahun terus meningkat yang disebabkan terutama oleh penggunaan transportasi disamping pemakaian oleh industri. Kebutuhan solar Indonesia dari tahun ke tahun terus naik. Pada tahun 2000 sebesar 21,39 miliar liter, tahun 2005 sebesar 27,05 miliar liter, dan pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 34,71 miliar liter (Reksowardoyo, 2005). Peningkatan ini akan terus terjadi setiap tahunnya seiring dengan pengembangan teknologi yang semakin maju dan jumlah penduduk yang semakin bertambah.

Bodiesel adalah suatu energi alternatif yang telah dikembangkan secara luas untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM). Biodiesel merupakan bahan bakar berupa metil ester, sejenis asam lemak yang dihasilkan dari proses kimia antara minyak nabati dan alkohol. Sebagai bahan bakar, biodiesel mampu mengurangi emisi hidrokarbon tak terbakar, karbon monoksida, sulfat, hidrokarbon polisiklik aromatik, nitrat hidrokarbon polisiklik aromatik dan partikel padatan. Karena itu, biodiesel merupakan bahan bakar yang disukai disebabkan oleh sifatnya yang ramah lingkungan (Utami et al, 2007). Biodiesel bisa dibuat dari minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak kedelai, minyak kelapa sawit, dan minyak dari biji-bijian tanaman. Biodiesel memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan petrodiesel karena dapat mengurangi emisi gas beracun seperti CO2, CO, HC, NOx, SOx, mengurangi senyawa karsinogenetik dan meningkatkan pelumasan mesin.


Bahan Bakar Biodiesel

Mobil Berbahan Bakar Biodiesel

Pemerintah Indonesia menargetkan pada tahun 2016-2025 memproduksi 5% dari konsumsi solar yaitu sekitar 4,7 juta KL (Keppres RI. No. 5 tahun 2006). Indonesia memiliki banyak jenis tanaman penghasil minyak yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Meskipun demikian, sebagian minyak nabati memiliki kualitas jelek dengan asam lemak bebas (FFA) yang tinggi.

Beberapa HHBK Potensial Untuk Biodiesel

Hasil hutan bukan kayu yang berpotensi dan telah diteliti sebagai penghasil biodiesel serta diteliti kandungan kimianya antara lain biji Kepuh (Sterculia foetida), biji Kesambi (Schleichera oleosa Lour) dan biji Nyamplung (Callophyllum inophyllum Linn).

Biji Kepuh (Sterculia foetida)

Tumbuhan Kepuh (Sterculia foetida) memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan biodiesel karena inti bijinya memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi, yaitu sebesar 40% (Heyne, 1987). Selain kandungan minyaknya yang cukup tinggi, minyak biji Kepuh juga tidak digunakan sebagai bahan konsumsi  seperti halnya minyak kedelai, minyak sawit dan minyak bunga matahari. Tanaman Kepuh juga mampu tumbuh dengan mudah  di lahan kritis dan termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat serta tersebar di seluruh Nusantara (Heyne, 1987).

Buah dan Bijih Kepuh (Sterculia foetida)

Daun Kepuh (Sterculia foetida)


Biji Kesambi (Schleichera oleosa Lour)

Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai biodiesel adalah dari biji kesambi (Schleichera oleosa Lour). Minyak biji kesambi mengandung beberapa jenis asam lemak dengan komposisi tertentu yang mirip dengan tanaman penghasil biodiesel lainnya. Asam lemak yang terdapat pada minyak kesambi yaitu asam miristat, asam palmitat, asam stearat, asam arakidat, asam oleat, dan asam linoleat.


Daun dan Buah Kesambi
(Schleichera oleosa Lour)

Bijih Kesambi
(Schleichera oleosa Lour)


Di Indonesia, pohon kesambi merupakan tanaman hutan yang banyak tumbuh di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Pulau Seram, dan Pulau Kai. Pohon ini tumbuh baik di wilayah tropis dan tanah kekeringan atau musim kemarau. Biji kesambi dapat menghasilkan minyak atsiri yang dikenal dengan nama minyak Makassar. Berat kulit biji kesambi adalah 40% dari berat bijinya dan isi biji mengandung kira-kira 70% minyak (Heyne, 1987). Minyak yang diperoleh berwarna kekuning-kuningan, encer, bening dan berbau khas. Bila minyak disimpan lebih dari satu tahun, maka akan terbentuk endapan putih (Heyne, 1987). Minyak kesambi mengandung asam sianida (HCN) sebanyak 0,02% (Heyne, 1987). Minyak biji kesambi dapat digunakan sebagai pelumas, sabun lunak, pembuatan lilin, dan digunakan pada industri batik. Kandungan potensial minyak yang cukup tinggi sekitar 70-73% dari biji kering, membuat minyak kesambi diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber baru penghasil biodiesel.




Selanjutnya : 
Kualitas Biodiesel >>>>



Artikel Terkait