Kalimat Bijak :

Tuesday, July 23, 2013

Melindungi alam, mengasihi kehidupan sendiri

Perspektif Agama Konghucu Terhadap  Upaya Pelestarian dan Perlindungan Hutan




Melindungi alam, mengasihi kehidupan sendiri

Melindungi alam adalah mengasihi diri sendiri, mengapa demikian?. Sebab  pada hakekatnya  langit,  bumi, manusia,  dan laksa benda di alam semesta adalah satu kesatuan yang bulat, yang tak boleh kurang satupun dari keempatnya. Jika hanya ada unsur langit, bumi, dan laksa makhluk, namun tidak ada unsur manusia,keberadaan alam menjadi tak bermakna. Sebaliknya, tanpa langit dan bumi manusia dan laksa benda tak akan dapat eksis. Demikian  pula  bila  hanya  ada  langit,  bumi  dan  manusia, namun tidak ada laksa benda lainnya, manusia tidak mungkin dapat bertahan hidup dan alam raya pun menjadi ruang hampa yang penuh kesunyian. Langit, bumi, dan manusia, dan laksa benda adalah empat komponen pembentuk alam semesta yang saling bergantung dan berkaitan erat. Sebagai bagian dari alam manusia tidak boleh hidup eksklusif dari alam. Namun materialisme, utilitarianisme, dan teknologi telah membuat manusia berseru lantang mau menaklukan alam semesta!. Begitu manusia menyatakan diri beroperasi dengan alam, maka selangkah demi selangkah pelan namun pasti manusia telah membawa masa depannya ke dalam jurang kehancuran.

Pada hakekatnya Langit bagaikan alat, Bumi bagaikan tulang otot, dan pembuluh darah, sedangkan manusia adalah badan jasmani sementara Laksa Benda adalah mata, hidung, telinga, mulut, alis, rambut, tangan dan kaki. Perpaduan semua bagian dan organ inilah yang membentuk tubuh seorang manusia yang utuh. Demikian pula adalah perpaduan keempat komponen : langit, bumi, manusia dan laksa benda yang membentuk alam semesta raya yang sempurna. Sebagai bagian dari alam, manusia harus hidup sejalan dan seirama dengan alam, dan inilah kebenaran hidup. Perilaku yang dibuat-buat, sikap munafik, egoisme, kekakuan, keserakahan, kejahatan, nafsu, dan ambisi yang berlebihan adalah betentangan dengan kebenaran alam.

Menyaksikan keindahan, keharmonisan, keseimbangan, dan keselarasan serta efisiensi alam yang sempurna. Kita hanya dapat berdecak kagum akan kebsaran dan keagungan sang pencipta Tuhan yang maha pengasih. Surya , Rembulan, dan binatang yang gemerlap, samudera dan daratan yang luas, gunung yang tinggi menjulang. Sungai yang tak henti mengalir, langit biru, awan yang putih, pohon yang  rindang,  rumput  yang  hijau,  bunga  yang  indah  berwarna- warni dan harum semerbak, unggas yang terbang di angkasa hewan yang berlarian di hutan, ikan yang berenang di air, serta angin, hujan, embun, pelangi, dan kilauan senja adalah manifestasi energi kehidupan alam yang paling nyata!.

Sayang sekali, karena arogansi, kesombongan, dan ketidaktahuan, manusia menganggap diri sebagai penguasa dan penakluk alam, dan tidak pernah mau menghargai kehidupan makhluk lain. Menganggap adalah haknya untuk menguasai dan mengeksploitasi kehidupan makhluk dan benda lain sekehendak hatinya. Bertolak dari pandangan Manusialah yang Termulia yang egoistic, manusia merusak alam dengan semena-mena, bahkan menghambur-hamburkan sumberdaya alam tanpa sayang sedikitpun. Namun, begitulah manusia mencoba menghancurkan alam, yang terjadi adalah manusia menghancurkan dirinya sendiri!. Ketika manusia menghambur-hamburkan sumberdaya alam yang terjadi adalah manusia sedang menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Manusia adalah bagian dari kesatuan alam yang tidak terpisahkan, baik makhluk unggas, yang merayap, atau yang hidup dalam air adalah denyut nadi dan nafas kehidupan alam yang paling nyata dan hidup!.

Gugusan gunung yang asri, bumi yang hening diam, rerumputan yang menghijau, pepohonan yang rindang. Langit biru yang luas tanpa batas, awan yang indah dengan sejuta bentuk, telaga yang hening bagaikan cermin, dan langit dengan bintang-bintang yang gemerlapan, adalah keindahan alam yang hening. Sementara burung yang beterbangan, ikan yang berenang kesana kemari, hewan yang berlarian dalam keriangan, dan gemercik mata air, sungai yang mengalir deras, samudera yang bergelora, serta berdesirnya angin, rintik-rintik hujan, gemuruh guntur, kicauan burung, kokok ayam, dan nyanyian serangga adalah keindahan alam yang dinamis.

Alam semesta, langit, bumi, makhluk dan benda tidak berbicara, dan manusialah yang menjadi penyampai kata. Manusialah yang berkewajiban menerjemahkan segala keindahan alam. Manusialah yang harus menjadi Juru bicara’ alam semesta. Tetapi bukan berarti manusia menjadi juru alam dalam segala-galanya. Manusia tidak berhak menentukan masa depan dan nasib makhluk lain.

Dengan demikian barulah manusia pantas dihormati sebagai makhluk yang berbudi dan termulia. Janganlah manusia menmpatkan diri di atas segala-galanya, lalu dengan sekehendak hati membabat hutan. Konsep pengagungan diri demikian adalah sangat keliru dan tidak etis. Jangan lupa bahwa langit dan bumi bagaikan kedua orang tua kita, sementara makhluk yang lain adalah saudara. Oleh sebab itu melindungi alam adalah sama dengan mengasihi kedua orang tua dan saudara kita, bahkan adalah mengasihi kehidupan kita sendiri!.


Artikel Terkait