Kalimat Bijak :

Saturday, September 19, 2015

Teknik Penanganan Bibit Kadaluwarsa


Bibit kadaluwarsa yang dimaksud di sini adalah bibit-bibit untuk tanaman hutan yang telah melewati waktu tanam dan juga telah melebihi ketentuan persyaratan bibit yang telah ditetapkan. Bibit untuk tanaman kehutanan, tingginya berkisar antara 50-100 cm, dengan diameter berkisar antara 1-2 cm (tergantung jenis pohon). Banyak alasan yang dapat menyebabkan bibit-bibit yang telah disiapkan di persemaian terlambat ditanam di lapangan. Misalnya turunnya anggaran penanaman yang tidak sesuai dengan musim penghujan, padahal penanaman bibit umumnya dilakukan pada pertengahan musim hujan.
Kadang pula penanaman belum dapat dilaksanakan (meskipun bibit telah siap), karena belum datangnya musim hujan, atau terjadi pergeseran musim. Masalah birokrasi, klaim kepemilihan lahan, juga terkadang menjadi kendala bagi penanaman bibit di lapangan.

Ukuran bibit kadaluwarsa bergantung pada jenis dan umur bibit. Jenis pohon cepat tumbuh (fast growing species), misalnya Sengon dan Akasia, tingginya dapat mencapai 2 meter atau lebih setelah berumur 2 tahun. Untuk kedua jenis tanaman ini, usia ini sudah dianggap kadaluwarsa. Untuk jenis pohon yang lambat pertumbuhannya seperti Ulin, Bayam (Intsia sp.), dan lain-lain, bibit berumur 2 tahun belum begitu tinggi. Untuk jenis-jenis Meranti, bibit yang telah berumur 2-3 tahun tingginya bisa mencapai sekitar 2 meter. Diameter batangnya sekitar 1-2 cm karena berdempetan satu sama lain.

Penanganan Bibit Kadaluwarsa

1. Pemindahan ke Polibag Besar
Bibit kadaluwarsa yang tingginya sudah melebihi 1 meter dan akarnya sudah menembus polibag masuk ke dalam tanah, dapat dipindahkan ke polibag yang berukuran lebih besar. Hal ini dilakukan agar akar yang sudah banyak dan besar dapat dipindahkan ke dalam polibag karena polibag yang lama terlalu kecil dan sudah lapuk. Bibit tersebut sebaiknya ditanam pada tahun berikutnya. Pemotongan akar yang menembus polibag harus dilakukan dengan hati-hati. 

Penambahan tanah dan pupuk kandang pada polibag perlu dilakukan agar bibit dapat tumbuh dengan baik mengingat polibag yang lama telah padat. Pemeliharaan selanjutnya sama seperti penanganan bibit di persemaian.

Menurut Effendi (2006), bibit ukuran besar dapat digunakan untuk penanaman dalam skala kecil dan terbatas, serta pada lokasi-lokasi yang aksesnya mudah, seperti di taman, arboretum, atau pinggir jalan. Untuk jenis-jenis pohon langka, sebaiknya menggunakan bibit ukuran besar agar dapat bersaing dengan lingkungannya.

2. Pemotongan Batang dan Akar
Bila bibit sudah mencapai tinggi 2 meter, maka bagian atas bibit tersebut dipotong atau dipangkas dan disisakan tingginya 50-75 cm. Sedangkan akarnya, terutama yang keluar polibag dan menembus tanah dipotong dengan hati-hati. Tanah yang terdapat pada akar diusahakan agar tidak lepas/terurai. Selanjutnya bibit dipindahkan ke polibag yang lebih besar karena ukuran bibit sudah besar. 

Pemeliharaan di persemaian antara lain penyiraman (pagi dan sore hari), dan pemberian pupuk. Pemberian pupuk daun seperti Gandasil D dapat dilakukan untuk memacu pertumbuhan tanaman yang sebelumnya telah mengalami strees akibat pemangkasan batang dan akar. Dalam waktu sekitar 6 bulan, biasanya bibit akan kembali normal dan telah tumbuh tunas baru, dan siap ditanam di lapangan.

3. Dijadikan Bibit Ukuran Besar
Bibit ukuran besar dengan tinggi sekitar 2 meter dengan diameter pangkal batang 3-5 cm (tergantung jenis) merupakan salah satu pilihan dalam memanfaatkan bibit kadaluwarsa. Untuk itu diperlukan penanganan lebih lanjut. Polibag yang sudah lama dan berukuran kecil diganti dengan ukuran besar dan agak tebal, misalnya polibag untuk bibit Sawit atau Kelapa. Akar tanaman dipotong dengan hati-hati dan dimasukan ke polibag bersama dengan tanahnya. Pemeliharaan dilakukan secara teratur, antara lain dengan penyiraman (pagi dan sore) seperti halnya memelihara bibit di persemaian.

Penggunaan bibit berukuran besar untuk lokasi yang aksesnya mudah, seperti di pinggir jalan, atau untuk penanaman di hutan. Bibit berukuran besar akan memberikan keberhasilan penanaman yang lebih baik dibandingkan dengan bibit ukuran kecil, karena bibit ukuran besar akan lebih kuat bersaing dengan lingkungannya.

4. Pembuatan Stump
Bibit-bibit yang telah kadaluwarsa dapat juga dijadikan Stump. Stump dibuat dengan cara memotong sebagian batang dengan disisakan bagian batang dekat akar dengan panjang sekitar 20-30 cm. Bagian akar juga dipotong dan disisakan sepanjang 20-30 cm (tergantung jenis tanamannya). Selanjutnya stump dimasukan ke dalam polibag yang telah diisi dengan campuran top soil, pupuk kandang, dan pasir, dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Ukuran polibag yang digunakan 20-25 cm. Polibag selanjutnya disusun dalam bedengan. Penyiraman stump dilakukan pada pagi dan sore hari, kecuali di musim hujan.

5. Pembuatan Kebun Pangkas
Bibit kadaluwarsa umumnya masih muda dimana umurnya antara 1-3 tahun. Bibit tersebut dapat digunakan untuk pembuatan kebun pangkas yang nantinya dijadikan sebagai sumber stek pucuk dalam memproduksi bibit dari stek pucuk. Khusus untuk jenis-jenis Meranti, kebun pangkas dapat dibuat dengan sistem bedengan atau ditanam dalam polibag besar. 

Salah satu persyaratan bahan stek pucuk adalah umur tanaman harus kurang dari 4-5 tahun (tergantung jenis pohon). Sumber bahan stek pucuk dapat juga diperoleh dari bibit yang dipotong sebagian batangnya atau bibit yang akan dijadikan stump. Untuk jenis-jenis Meranti, metode ini sudah biasa digunakan.

6. Kombinasi
Bibit yang telah kadaluwarsa dapat digunakan untuk beberapa keperluan. Pucuk dapat dijadikan untuk bahan pembuatan stek pucuk, khususnya jenis-jenis Meranti. Selanjutnya bibit yang telah diambil pucuknya dipotong sebagian akarnya lalu dijadikan bibit. Tentu saja bibit tersebut dipelihara dulu di persemaian. Bagi bibit yang terlalu besar dan tinggi dapat dijadikan stump. 

Daftar Pustaka :
  1. Effendi, R. 2006. Kemungkinan Penggunaan Bibit Berukuran Besar Untuk Penanaman Hutan. Majalah Kehutanan Indonesia Edisi X Tahun 2006. Jakarta.
  2. Siswari, R.L.S. 2006. Payung Itu Bernama Indonesia Menanam. Majalah Penyuluhan Kehutanan KENARI. Edisi 52/2006. Pusat Penyuluhan Kehutanan. Jakarta.

Artikel Terkait