Kalimat Bijak :

Showing posts with label agama Budha. Show all posts
Showing posts with label agama Budha. Show all posts

Saturday, July 13, 2013

Rekomendasi dan penutup

Pelestarian alam dan perlindungan hutan dalam perspektif agama Budha



REKOMENDASI DAN PENUTUP


Rekomendasi :

Berdasarkan uraian tersebut di atas, demi untuk menjaga Pelestarian Alam dan Upaya Perlindungan Hutan. Agama sebagai sumber nilai petunjuk hidup benar, penjaga kehidupan yang sejati dan  luhur,  agama  juga  membangun  pandangan  hidup  umatnya yang mempengaruhi perilaku pemeluknya dalam pergaulan dengan alam. Maka pada kesempatan ini perlu kani sampaikan hal-hal yang mungkin berguna  dalam usaha menjaga kelestarian Alam dan Upaya perlindungan hutan antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Perlunya dibentuk Tim sosialisasi dan Pengawasan Lingkungan Hidup, dengan melibatkan peran serta para Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat, yang ditunjuk oleh Gubernur untuk tingkat provinsi, Bupati untuk tingkat kabupaten, dan Camat untuk tingkat kecamatan, yang terlebih dahulu tim tersebut dibekali dengan pengetahuan dan peraturan-peraturan mengenai pelestarian alam dan upaya perlindungan hutan melaui pelatihan-pelatihan;
  2. Perlunya gerakan moral yang menyatakan : “hutan adalah sahabat dan patner kehidupan kita yang harus kita jaga dan kita cintai”;
  3. Perlunya gerakan wajib menanam satu pohon produktif untuk satu jiwa, bagi masyarakat yang memiliki lahan kosong.


Penutup

Demikian dengan harapan semua makalah ini bisa memberi sedikit tambahan pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat khususnya dalam usaha pelestarian alam dan perlindungan Hutan.



Langkah yang harus dilakukan

Pelestarian alam dan perlindungan hutan dalam perspektif agama Budha



LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN


Peradaban menghendaki hidup ini memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia. Namun karena hidup manusia bukanlah benalu, maka ia seharusnya berusaha memulihkan sumberdaya alam yang telah terpakainya. Schumacher mengatakan setiap pengikut sang Buddha wajib menanam sebatang pohon setiap beberapa tahun dan menjaganya sampai sungguh-sungguh hidup. Orang yang pandai dan bijaksana akan berusaha meningkatkan kesejahteraan atau mencapai sukses yang sebesar-besarnya, hanya dengan menggunakan sumberdaya yang minimal, seperti ia meniup nafasnya membuat api menjadi besar (Jataka 1, 123).

Jadi, pandangan hidup tentang keserasian hubungan manusia dan alam, sebagaimana yang tercermin dalam Buddha Dharma, akan memberikan sumbangan tak ternilai bagi penanggulangan masalah lingkungan. Pandangan ini menempatkan manusia sebagai bagian dari alam semestanya yang saling tali temali satu sama lain, tidak egois atau serakah yang menyebabkan terjadinya keserakahan dan kekerasan.

Sikap hidup tanpa kekerasan terhadap segenap isi alam ini harus sungguh-sungguh terwujud sebagaimana dicontohkan Samana Gotama. ”Samana Gotama tidak merusak tumbuh-tumbuhan. Tidak melakukan perjalanan di musim hujan untuk menghindari kemungkinan akan menginjak tunas-tunas tanaman atau menggangu kehidupan binatang-binatang kecil yang muncul setelah hujan. Tidak membunuh makhluk. Samana Gotama menjauhkan diri dari membunuh makhluk. Beliau telah membuang alat pemukul dan pedang, beliau tidak melakukan kekerasan karena cinta kasih, kasih sayang dan kebaikan hatinya kepada makhluk“ (Brahmajalla Sutta).

Manusia dewasa ini telah semakin sadar, bahwa bumi sebagai rumah tangganya ini telah tidak lagi menjadi tempat tinggal yang nyaman, akibat kerusakan ekologis yang telah dibuat oleh manusia itu sendiri. Industrialisasi dan peperangan telah membuat bumi mengalami banyak kehancuran. Pencemaran kebutuhan dasar umat manusia seperti air, tanah, dan udara, dan penggundulan hutan terjadi atas nama pertumbuhan ekonomi.

Di sinilah perlunya program-program pembangunan yang beranjak dari kebijakan yang arif dan bersumber pada pandangan hidup yang utuh, yang melihat hubungan manusia dan alam sebagai satu kesatuan, dan tindakan ekonomi manusia yang tidak semata atas dasar self interest. Dalam konteks inilah, agama harus tampil ke depan, memainkan perannya demi kesejahteraan dan kebahagiaan segenap mahluk.

Agama sebagai realitas maupun lembaga juga tidak lepas dari masalah yang menyangkut ekonomi dan ekologi. Agama harus memainkan fungsi profesinya terhadap realitas hidup nyata. Agama sebagai sumber nilai petunjuk hidup benar, penjaga kehidupan yang sejati dan luhur, harus memainkan perannya. Demi kelangsungan ekosistem selanjutnya.

Sang Buddha bersabda “Demi kasih sayang, bersabdalah untuk kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan baik dewa ataupun manusia” (Maha Vagga 1,11).

Ajaran agama sungguh berfungsi dalam kehidupan bersama, kalau kembali dihayati apa yang menjadi intinya, yang dapat menjadi pilihan dan menentukan keputusan yang menyangkut sesuatu kehidupan. Karena itu, seseorang yang tidak menghayati ajaran agama, sering kehillangan kredibilitas seperti sumur tanpa air.

Terhadap masalah ekologis ini, ajaran-ajaran agama memainkan peranan penting. Melalui ajarannya, agama membangun pandangan hidup umatnya dan mempengaruhi perilaku pemeluknya dalam pergaulannya dengan alam, misalnya pandangan hidup tentang alam, apakah manusia harus hidup serasi dengan alam, atau manusia boleh mengeksploitasi alam dengan sesukanya.

Bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan tersebut di atas, maka perlu dengan segera diambil langkah-langkah konkrit antara lain sebagai berikut :

  1. Mengadakan gerakan moral yang menyatakan “Hutan adalah sahabat dan partner kehidupan kita yang harus kita jaga dan kita cintai”;
  2. Melibatkan peran serta para Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat dalam mensosialisasikan dan pengawasan terhadap Pelestarian Alam dan Upaya Perlindungan Hutan;
  3. Mengadakan gerakan menanam pohon produktif bagi masyarakat yang memiliki lahan kosong;
  4. Menindak tegas para penebang hutan tanpa izin.



Kondisi pengelolaan sumberdaya alam saat ini

Pelestarian alam dan perlindungan hutan dalam perspektif agama Budha



KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM SAAT INI DAN DAMPAKNYA BAGI KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA


Hutan  adalah  salah  satu  sumberdaya  alam  yang  penting. Hutan   dengan   segala   isinya   merupakan sumber kehidupan. Hutan diperlukan karena menghasilkan bahan baku bagi industri dan tidak bisa dipungkiri, hutan juga telah membantu kita untuk menetralisir pencemaran (polusi) udara yang diakibatkan dari berbagai kegiatan manusia seperti : perindustrian, pabrik, kendaraan bermotor, pembakaran, dan lain-lain. Yang sekarang hutan juga disebut sebagai “Paru-paru Dunia”.

Lebih dari itu, hutan dalam Agama Budhha, mendapat tempat yang khusus. Hutan adalah Tempat  yang  menyenangkan,  Hutan  adalah  Tempat  yang  baik untuk latihan meditasi. Di sana para pertapa yang telah bebas dari nafsu dan menyukai kesunyian akan menyepi dan merasa gembira (Dhammapada 99), karena itu kita sangat berkepentingan untuk selalu menjaga kelestarian hutan.

Lalu bagaimanakah kondisi Pengelolaan Sumberdaya Alam saat ini yang di dalamnya terdapat Hutan? Berdasarkan pengamatan, sesungguhnya Pemerintah telah melakukan upaya pengelolaan sumberdaya alam semaksimal mungkin dengan berbagai cara, diantaranya mengadakan reboisasi, gerakan penghijauan, dan lain-lain, termasuk juga telah mengatur Penyelenggaraan Kehutanan dengan disahkannya Undang-Undang yaitu Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dalam pasal 2 yang menyebutkan “Penyelenggaraan kehutanan berasaskan manfaat dan lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan dan keterpaduan”. Dalam pasal selanjutnya juga disebutkan bahwa “Penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan”. Namun upaya itu nampak belum sepenuhnya mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sebagaimana diharapkan.

Sebagian masyarakat memanfaatkan Hutan dengan caranya masing-masing,  tidak  mengikuti  aturan  yang  berlaku,  apakah karena tidak tahu peraturan atau memang tidak mau tahu dengan peraturan. Ia memburu dan menebang Hutan sampai melampaui batas-batas  maksimal.  Hanya  karena  atas  keserakahan untuk memenuhi kepentingan pribadi, tanpa melihat dampak buruk yang akan terjadi.

Keserakahan merupakan akar permasalahan yang sering kali akan menyebabkan penderitaan. Kita juga ingat ucapan Mahatma Gandhi - pejuang  besar  India  yang  terkenal  dengan  Ahimsa, gerakan politik yang tanpa kekerasan (non violence) - bahwa “bumi ini mempunyai persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan semua orang”.

Dalam Aggana Sutta diriwayatkan dengan jelas dan rinci hubungan timbal balik antara perilaku manusia dengan evolusi perkembangan tumbuh-tumbuhan. Jenis padi (Sali) yang pertama dikenal berupa butiran yang bersih tanpa sekam. Padi dipetik pada sore hari, berbuah kembali keesokan harinya, dipetik pagi-pagi, berbulir, masak kembali di sore hari. Semula manusia mengumpulkan padi secukupnya untuk sekali makan. Kemudian timbul dalam pemikiran manusia, bukankah lebih baik mengumpulkan padi yang cukup untuk makan siang dan malam sekaligus. Pikiran berikut timbul, lebih baik lagi kalau dikumpulkan untuk dua hari, empat hari, enam hari, delapan hari, dan seterusnya. Sejak itu manusia mulai menimbun padi. Padi yang telah ditunai tidak tumbuh kembali. Maka akibat keserakahannya, manusia harus menanam dan menunggu cukup lama hingga padi yang ditanamnya berbuah. Batang-batang padi mulai tumbuh berumpun, lalu bulir-bulir padi pun berkulit sekam (Digha Nikaya III 88-90). Cerita ini menggambarkan berlakunya Hukum Alam, keserakahan yang dilakukan oleh seorang akan membuat kesulitan bagi dirinya sendiri.

Menurut Buddha Dharma (Ajaran Sang Buddha), keserakahan adalah perbuatan buruk yang dilakukan melalui pikiran. Apabila keserakahan itu terus berkembang dalam pikiran tanpa terkendali yang akhirnya termanifestasi dalam bentuk perbuatan jasmani yaitu melakukan pencurian atau mengambil barang yang bukan miliknya, maka orang tersebut telah melakukan pelanggaran sila. Menebang  atau merambah hutan tanpa izin termasuk penggolongan pencurian, yang tentunya perbuatan itu akan memberikan akibat kepada pelakunya.

Pepohonan (kayu) merupakan salah satu hasil hutan yang sangat dominan, mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, yang apabila dikelola dengan baik akan memberikan kontribusi dan dapat menghasilkan devisa Negara yang besar. Sebaliknya, apabila pepohonan tersebut tidak dikelola dengan baik, dirusak dan ditebang tanpa terkendali, akan mengakibatkan kerugian besar terhadap Negara. Lebih dari itu akan mengakibatkan bencana dan malapetaka yang juga sangat besar bagi kehidupan semua makhluk, termasuk bencana dan malapetaka bagi kelangsungan hidup umat manusia. Dan bencana, malapetaka dan penderitaan akibat pengrusakan hutan itu, sudah dan sedang kita rasakan saat ini, yang harus dengan segera kita atasi bersama.




Keteladanan dan menghargai kehidupan dalam pelestarian alam dan upaya perlindungan hutan

Pelestarian alam dan perlindungan hutan dalam perspektif agama Budha


KETELADANAN DAN MENGHARGAI KEHIDUPAN DALAM PELESTARIAN ALAM DAN UPAYA PERLINDUNGAN HUTAN


Sang  Buddha  mengajarkan  agar  setiap  Bhikkhu  dan  para pengikutnya untuk menghargai kehidupan dalam bentuk sekecil apa pun. Diriwayatkan : Bhikku Dhaniya yang membangun Pondok dan Tanah Liat itu berwarna merah, karena berasal dari panggangan sejenis serangga. Mengetahui hal tersebut, Sang Buddha mengutuk perbuatan Bhikku Dhaniya. Seorang pertapa harus melatih dirinya untuk menghargai kehidupan dalam bentuk sekecil apa pun (Vinaya III, 41-42).

Dalam Vinaya (Peraturan Bhikkhu), sang Buddha menetapkan bahwa seorang Bhikku yang menyebabkan kerusakan pada tanaman dinyatakan bersalah. Ajaran sang Buddha mengenai sikap menghormati dan tanpa kekerasan, tidak hanya berlaku pada semua makhluk hidup, tetapi juga terhadap tumbuh-tumbuhan. Sang Buddha  dan  siswa - siswanya  tidak  merusak  biji-bijian dan tidak akan merusak tumbuh-tumbuhan (Digha Nikaya 1,5). Di musim hujan (Masa Vassa) para Bhikku tidak melaksanakan perjalanan, untuk menghindari kemungkinan akan menginjak tunas-tunas tanaman dan menggangu kehidupan binatang-binatang kecil yang muncul setelah hujan (Vinaya 1, 137).

Zaman kekacauan yang kita alami saat ini, timbul mungkin disebabkan karena adanya krisis moral yang melanda dari sebagaian orang. Yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kehidupan kita sendiri, yang mungkin pula berhubungan dengan munculnya berbagai bencana alam seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, gagal panen, kelaparan, munculnya berbagai penyakit dan lain-lain. Dalam perspektif agama Buddha, cerminan keadilan dan kebenaran dari interaksi antar umat manusia, yang dapat terlihat dari hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya dan alam.

Alam yang bersahabat misalnya hujan yang turun pada waktu dan panen berlimpah, kesejahteraan dan kedamaian menyatu bagaimana Pemerintah berlaku lurus dan adil, atau bagaimana masyarakat melaksanakan kebajikan. Tidak hanya hutan yang bisa terbakar, manusia pun bisa terbakar. Buddha mengingatkan pada indra, perasaan dan akal yang terbakar oleh hawa nafsu (Vin 1, 34). Tidak heran, berbagai fenomena alam sering dihubungkan dengan suasana batin rakyat dan dijadikan pertanda dari kelangsungan suatu pemerintah.

Berdasarkan banyak pengamat, krisis ekologi tumbuh dari adanya revolusi industri seperti yang terjadi di Inggris pada abad ke-18. Revolusi industri menyebabkan lahirnya kaum buruh yang hidup di lingkungan kumuh, serta pencemaran komponen dasar hidup manusia serta air, udara, tanah dan ruang.

Sehubungan dengan itu, sering disebut-sebut para ahli bahwa yang menjadi sumber kerusakan lingkungan, adalah karena adanya pandangan hidup yang menempatkan alam dalam sub- ordinasi di bawah manusia. Manusia berkuasa atas bumi, sehingga menjadikannya bebas mengeksploitasi alam sesukanya.

Sang pangeran Sidharta menjadi Buddha setelah beliau bertapa di bawah pohon Bodhi, dalam khotbahnya kita temui ungkapan-ungkapan yang menyatakan keserasian hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungannya. Manusia dan alam maupun lingkungannya saling tergantung satu sama lain. Ajaran Agama Buddha tidak menempatkan egoisme atau self interest bahwa manusia terhadap alamnya. Alam adalah partner dalam kehidupan kita yang harus kita jaga kelestariannya.

Seorang Buddhis meneladani sikap sang Buddha, bagaimana sang Buddha mengungkapkan rasa terima kasihnya pada pohon Bodhi, tempat dimana beliau duduk mencapai kesempurnaan, dengan menatapnya berhari-hari penuh cinta kasih dan rasa terima kasih. Bahkan sang Buddha menjadikan pohon Bodhi sebagai alternative pengganti dirinya, bila umat ingin menyatakan rasa hormatnya. Begitulah luhurnya Buddha Dharma, terhadap sebuah pohon pun kita mengakuinya dan menyebutkan sebagai pohon suci. Terhadap hal lainnya di muka bumi ini pun, Sang Buddha juga menekankan untuk menjaga kelestariannya. Sang Buddha menjaga dan menghargai sesuatu yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dengan tidak merusak dan mengotorinya. Dalam hal ini Sang Buddha bersabda “Saya tidak akan buang air besar, buang air kecil atau meludah pada tanaman-tanaman hijau dan kedalaman air yang digunakan untuk umum” (Vinaya sekhiyavatta, 77, 75).

Selanjutnya, patron bagi Internasional Network of Engaged Buddhist ini menyatakan bahwa alam adalah ibu sejati manusia. Bila pepohonan tidak dapat hidup, manusia tidak dapat hidup pula. Kita sakit sebab kita telah merusak lingkungan kita sendiri, dan kita mengalami penderitaan karena berada jauh dari ibu jari, yaitu ibu alam.