Kalimat Bijak :

Showing posts with label agama katolik. Show all posts
Showing posts with label agama katolik. Show all posts

Friday, July 12, 2013

Ajaran sosial Gereja

Perspektif agama Katolik terhadap pelestarian alam dan perlindungan hutan




V. Ajaran Sosial Gereja 

Sejarah membuktikan bahwa dari dulu hingga sekarang Gereja Katolik telah banyak memperhatikan moral individual, seksual dan social yang berhubungan dengan dunia kerja (Rerum Novarium 1891), Perdamaian antar bangsa (Pacum Interis 1963), dan Perkembangan manusia (Popularum Progressio 1967). Namun belakangan ini perhatian Gereja tidak hanya tercurah pada sektor-sektor kehidupan tersebut. 


Masalah lingkungan hidup dimasukkan ke dalam Agenda Gereja. Paus Paulus VI dalam suratnya pada kesempatan Konferensi Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Hidup Manusia (Stockhohm 1972), menegaskan bahwa manusia dan lingkungan alamiahnya saling terpaut dan perlunya pembatasan dalam menggunakan kekayaan alam yang sama. 


Beberapa tahun kemudian Paus Yohanes Paulus II menetapkan dan mengajukan sejumlah ajaran Sosial Baru yang berhubungan dengan alam dan perlindungan hidup. Dalam ensiklik Popularum Progressio 1967, pesan kepada FAO tahun 1970, pesan kepada Konferensi Lingkungan Hidup di Stockhholm pada tahun 1972, pesan kepada PBB mengenai kemampuan manusia pada tahun 1976. Pesan pada hari Lingkungan hidup sedunia V tahun 1977, dalam pesan terakhirnya Paulus VI berbicara tentang “Krisis lingkungan hidup dan ancaman akibat-akibat yang ditimbulkan oleh polusi industrial dan mendesak sejumlah perubahan tingkah laku kita yang boros dan mengaitkan lingkungan hidup dengan perkembangan dalam perspektif kerjasama internasional. 


J Przewosny menjadikan enam analisis Paus Yohanes Paulus II tentang masalah ekologi : 

  1. Seluruh keberadaan kosmos saling tergantung, saling ketergantungan ini membuat kita mengerti bahwa masalah ekonomi adalah masalah global; 
  2. Sumber- sumber alam sangat terbatas dan sejumlah sumber alam tidak dapat diperbaharui; 
  3. Kekayaan alam milik seluruh umat manusia dan bukan hanya kaum berada; 
  4. Manusia bebas untuk mengalami perkembangan manusiawi, suatu perkembangan global semua manusia antara lain melalui perkembangan ekonomi; 
  5. Masalah demografi adalah masalah rumit, artinya perluasan demografi bukan hanya menimbulkan perindahan lingkungan. Tetapi bertambahnya kelaparan di dunia dan masih ada juga penyebab masalah-masalah ekonomi; 
  6. Krisis ekologi adalah masalah moral yang mendorong masalah kesetiakawanan baru di antara seluruh umat manusia.
Yohanes Paulus II juga mengajarkan bahwa manusia dapat mengenal Tuhan melalui keindahan alam. Dalam alam terdapat nilai dalam dirinya dan memperoleh otonomi yang dialami harus dihargai dan dihormati manusia.



Thursday, July 11, 2013

Tantangan bersama




VIII.Tantangan Bersama 


Terjadinya kerusakan alam dan semakin berkurangnya area hutan karena kecerobohan dan keserakahan manusia telah mendatangkan malapetaka dan penghancuran bagi manusia. Bahkan mengancam kelangsungan hidup manusia saat sekarang dan dimasa-masa selanjutnya. Upaya pelestarian alam dan perlindungan merupakan indikasi kesadaran suatu bangsa dalam berfikir dan mengambil langkah bijaksana seluruh komunitas masyarakat yang perlu mendapat apresiasi bersama seluruh warga masyarakat. 

Masalah lingkungan bukan lagi masalah lokal tetapi merupakan masalah global yang saat ini sedang menjadi fokus perhatian bangsa manusia. 

Dalam upaya menjaga dan mengembalikan lingkungan alam dan hutan sehingga tercipta ekologi secara baik maka diperlukan : 

1. Kultur bertanggung jawab 


Sebagai bagian kecil dari seluruh sistem ekologis manusia seharusnya memang bertanggung jawab atas tindakan terhadap diri, sesama dan lingkungan hidup. Tanggung jawab dan kewajiban moral menjadi tema utama moral lingkungan yang sedang kita hadapi. Moral ini akan mengingatkan manusia akan pentingnya perlindungan etis terhadap lingkungan dan menghindari perusakan lingkungan hidup dan pembabatan hutan secara membabi buta. Moral bertanggung jawab ini bisa ditumbuh kembangkan melalui sosialisasi-sosialisasi terhadap masyarakat scara kontinyu oleh lembaga masyarakat maupun pemerintah. 


2. Dialog Karya 


Secara teologis umat beragama memiliki konsep yang berbeda- beda tentang Tuhan. Yang dimaksudkan disini adalah ajaran-ajaran masing-masing agama tentang Tuhan tidaklah sama. Banyak jalan menuju Roma. Atau, orang Jepang berkata banyak jalan menuju 
gunung kayu, setelah sampai dipuncaknya sama-sama memuji keindahan alam. Disamping perbedaan-perbedaan ajaran semua agama diperlukan menjunjung tinggi : kejujuran, kedamaian, hidup salng menyayangi, saling menghargai, toleransi, dsb. Semua manusia mendambakan hidup tentram dan sejahtera. kecuali orang yang tidak normal saja yang mendambakan situasi hidup kacau balau. 

Dengan menjaga keslestarian lingkungan dan alam semesta untuk menciptakan hidup yang lebih nyaman, asri dan indah merupakan dambaan bersama seluruh manusia lintas suku, agama, kelompok-kelompok tertentu. Maka lingkungan hidup menjadi wahana untuk membangun kebersamaan dan kerjasama dalam sebuah karya, untuk mewujudkan lingkungan alam yang bercita rasa ekologis yang dan nyaman. 


3. Pendidikan lingkungan hidup 


Kesadaran akan vitalnya lingkungan hidup tidak begitu saja bisa dimengerti, dihayati dan dsiadari oleh manusia. Namun tumbuh dan perkembangannya kesadaran manusia terhadap lingkungan hidup mengandaikan ada pembelajaran yang jujur, tepat dan benar. Dalam hal ini upaya pendidikan bisa dilakukan melalui jalur formal sekolah maupun lembaga informal masyarakat oleh lembaga masyarakat maupun lembaga keagamaan. Dalam hal ini rumah ibadah masing- masing agama bisa diberdayakan dalam rangka pendidikan lingkungan hidup bagi umat. 


4. Menggenggam paham kita 


Melakukan upaya pelestarian alam dan perlindungan hutan sebagai upaya bersama yang harus didukung oleh semua pihak. Kata upaya tersebut terkait dengan segala perbuatan untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. Alam yang didalamnya terkandung nilai-nilai hayati dan juga material-material tambang merupakan 
potensi yang sangat besar untuk menunjang kesejahteraan hidup manusia. Maka sangat masuk akal kalau semua bangsa tanpa kecuali kita bangsa Indonesia ini perlu menata dan mengatur secara lebih baik mengenai potensi-potensi alam dan kekayaan hayati hutan agar tercipta lingkungan yang kondusif yang memberikan dampak positif bagi kehidupan kita bersama. 

Krisis lingkungan diakibatkan oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang menyebabkan kerusakan-kerusakan alam yang vital yang terjadi dimana-mana. Dari kerusakan ini banyak menimbulkan bencana bagi kita. Perusakan tersebut dapat diduga adanya praksis pemikiran-pemikiran yang keliru dalam memandang alam dan potensi-potensi hutan yang kita miliki sebagai anegerah Sang Pencipta. Hal ini diperlukan pencerahan dan penjernihan pola fikir manusia agar mampu melihat fungsi alam dan lingkungan sebagai satu kesatuan dalam manusia melangsungkan hidupnya. 

Melihat krisis lingkungan alam dan juga hutan diperlukan upaya yang serius untuk memulihkan dan menjaga dan reksa bersama dalam bentuk membanguk kerjasama dengan semua lapisan masyarakat dan pemerintah untuk mengadakan pemulihan-pemulihan tersebut. 

Untuk membangun kerjasama sebagai bentuk sikap tanggung jawab terhadap alam dan lingkungan diperlukan landasan filosofis. Menurut hemat penulis, landasan filosofis itu adalah paham “kita” Ungkapan kita sebagai kata ganti aku-aku atau personal-personal sebagai anggota komunitas masyarakat maka paham kita sebnarnya sebagai kata ganti plural yang mengungkapkan keseluruhan anggota komuinitas.”Kita” mengandung maksud kesamaan martabat dan derajat sebagai ciptaan Allah. Kesamaan martabat dan derajat dalam paham tersebut bukan diperoleh dari upaya-upaya manusia atau anugerah sebuah lembaga melainkan pemberian sang pencipta yang melekat sejak manusia diciptakan. Kesamaan martabat dan derajat juga 
mengandung arti adanya panggilan tanggung jawab yang sama dalam 
membangun komunikasi dan hubungan sosial antara anggota warga satu dengan yang lainnya. Untuk menciptakan hubungan komunikasi yang baik dalam kehidupan bersama dalam komunitas masyarakat. Ini lingkungan kita, ini hutan kita, ini jalan kita, ini kampung kita,ini kantor kita. Ungkapan-ungkapan tersebut menggambarkan akan rasa memiliki secara bersama-sama, bekerjasama melakukan upaya bersama menjaga alam dan lingkungan, hutan untuk menciptakan kebaikan bersama dan untuk semuanya. Paham kita akan membawa kita pada kesadaran tugas panggilan mulia dari sang Pencipta dalam menciptakan kesejahteraan bersama (:bonum commune) dan kebaikan bersama (:unum bonum). 


5. Regulasi yang adil 


Agar lingkungan alam dan hutan dapat terjaga kelestariannya maka disamping kepedulian dan peran serta masyarakat juga sangat diperlukan penataan dan pengaturan secara baik oleh pemerintah sebagai pihak yang meregulasi. apapun kebijakan yang muncul dalam upaya menata dan memberdayakan lingkungan harus mengacu pada terpeliharanya alam lingkungan dan hutan demi kesejahteraan bersama dan demi kelestarian lingkungan tersebut. Untuk itu diperlukan aturan dan atau regulasi yang adil. Adil berarti alam dan lingkungan sekitar sebagai anugerah tuhan yang harus bisa dinikmati bersama dan demi kelestarian lingkungan tersebut. Untuk itu diperlukan atuaran dan atau regulasi yang adil. Adil berarti alam dan lingkungan sekitar sebagai anugerah Tuhan yang harus bisa dinikmati bersama seluruh warga. Adil juga berarti manusia tidak bisa semena-mena mengeksploitasi alam demi mencukupi kebutuhan- kebuthannya dan ambisi-ambisinya tetapi alam harus diperlakukan secara baik, dalam hal ini penggunaan potesi alam secara terbatas sehingga ekologi tetap terjaga. Dengan demikian lingkungan alam tetap memberikan dampak positif dalam kehidupan kita. 


Disamping upaya-upaya pelestarian terkait dengan budidaya maka diperlukan juga aturan-aturan yang adil dan memadai.Dalam hal ini perlu dijalani kerjasama yang baik dengan semua pihak-pihak baik dalam masyarakat, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga yang lain untuk membuat riset-riset yang akhirnya bermuara pada perlindungan alam dan pelestarian hutan demi terjaganya fungsi- fungsi, manfaat-manfaat untuk menciptakan keseimbangan ekologi yang baik.

Terima kasih semoga makalah ini bermanfaat bagi kta semua. 
Tuhan memberkati kita sekalian.



Kebijakan politik





VII. Kebijakan Politik 


Keputusan-keputusan politik dalam negara ikut mempengaruhi keadaan lingkungan hidup, pelestarian alam dan pelestarian hutan. Langkah-langkah prosedural macam apa yang harus ditempuh untuk mengambil keputusan yang tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan? Bagaimana seharusnya dipertimbangkan kepentingan bersama sekarang dan dimasa mendatang? Adalah kewajiban 
pemerintah untuk menerapkan peraturan perundang-udangan atau hukum secara konsisten dan bertanggungjawab, maka akan muncul perusakan dan penghancuran lingkungan hidup dalam lingkup dan skala yang lebih luas dimasa-masa mendatang. Dalam hal ini segala bentuk KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) harus disingkirkan sebab KKN merupakan penyakit sosial yang akan meremukkan ekologi yang bersih, benar, dan jujur.

Kehadiran badan dan lembaga khusus yang memantau dan mengawasi persiapan Undang-undang lingkungan hidup secara konsisten sangat diperlukan. Selain itu keputusan politik harus memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan umum dan bukan mendahulukan kelompok kecil/ segelincir masyarakat. Kalau tidak, maka pelaksanaan Undang-undang akan sulit dilaksanakan. Akhirnya permasalahan pelestarian alam dan lingkungan hutan merupakan permasalahan yang serius yang memerlukan perhatian dari semua pihak sebagai warga negara untuk menjaga dan melestarikannya. Itu semua mengingat bahwa fungsi alam dan hutan dalam kebudayaan manusia sangatlah urgen. Kondisi alam yang terjaga dan hutan yang terpelihara dengan baik akan memberikan dampak positif bagi terwujudnya kehidupan yang sejahtera dan indah. Karena dengan terjaganya alam lingkungan berarti pula kita telah melaksanakan amanah Tuhan bahwa kita diserahi untuk mengelola secara baik bumi dan segala isinya tentunya untuk kehidupan kita bangsa manusia dan terutama untuk memuliakan Tuhan, karena semua ciptaan sebenarnya merupakan cerminan Tuhan Allah Sang Pencipta sebagai asal dan tujuan akhir segala ciptaan. Segala upaya yang berupa apapun untuk menjaga kelestarian alam dan kandungan-kandungan hayati serta pelestarian hutan merupakan habitus baru yang perlu terus dipupuk dan dikembangkan sebagai cara hidup manusia untuk semakin menjadikan dirinya semakin memanusia yang memikliki kodrat dan martabat sebagai ciptaan Allah yang 
istimewa dengan dimensi ke illahiannya.





Membangun sikap kepedulian


VI. Membangun Sikap Kepedulian 


Kerusakan lingkungan alam dan pembabatan hutan secara tidak bertanggung jawab telah mengakibatkan rusaknya ekologi. Keseimbangan alam dan lingkungan menjadi terganggu yang sangat berpengaruh terhadap hidup manusia. Malapetaka bertubi-tubi harus dihadapi oleh manusia yang tidak jarang menimbulkan korban yang tidak sedikit baik jiwa, harta maupun trauma-trauma psikologis yang mendalam. Terkikisnya hutan menyebabkan terjadinya banjir bandang, tanah longsor. Kita tidak lagi memiliki resapan air yang baik dan tanaman penahan tanah. Sebagian besar telah dimusnahkan oleh ulah manusia sendiri. Masyarakat kita tidak jarang membuang sampah sembarangan yang bukan tidak mungkin menimbulkan pencamaran udara, air dan juga menyebabkan banjir. Bencana- bencana yang menimpa kita masih bisa kita litani. Keadaan diatas sebenarnya menyatakan dan membutikan bahwa kita belumlah mampu mengolah, mengatur alam lingkungan sehingga tercipta ekologi yang baik. Mungkin disebabkan oleh kurangnya pengertian, pendidikan yang baik tentang ekologi, tentang perlunya kita mencintai dan menjaga lingkungan alam dan hutan secara memadai kalau kita 
ingin hidup kita sejahtera. Disamping itu juga belum optimalnya pemerintah dalam megelola serta membuat kebijakan dan policy. Ini mengandaikan “good will” dari semua pihak baik personil warga, lembaga-lembaga masyarakat dan pemerintah setempat.

Sikap kesadaran kita terhadap lingkungan hidup dan mencintai alam bisa ditumbuh kembangkan melalui pemberdayaan keluarga, masyarakat, pendidikan non-formal dan jalur-jalur lain seperti : satuan-satuan kerja dan juga organisasi-organisasi kemasyarakatan dan musyawarah keagamaan yang kita miliki. Dari sosialisasi yang dilakukan melalui berbagai organisasi/lembaga sangat dimungkinkan akan terjadi pengertian, pemahaman yang baik terhadap lingkungan- lingkungan dan alam semesta dalam hubungannya dengan manusia dalam mencapai kesejahteraan yang sangat didambakan.

Mengelola alam dan lingkungan sebenarnya mengandaikan pelibatan seluruh disiplin ilmu dan keahlian serta keterampilan dan lain sebagainya. Namun yang perlu dipahami bersama bahwa perlu adanya pemahaman yang benar dan mendasar mengenai alam semesta yang tidak bisa meninggalkan peran Tuhan sebagai asal muasal adanya jagad raya dan segala isinya. Segala yang ada yang semua diciptakan baik adanya yang harus tetap djaga, dikembangkan dalam kemuliaan-Nya. Karena sebenarnya seluruh alam ciptaan memperlihatkan kemuliaan Allah sendiri yang berasal dari Allah dan dalam prosesnya menuju Allah sebagai terminal akhir.




Membangun kesadaran




IV. Membangun Kesadaran 




Ekologi dan moral lingkungan hidup saling terpaut. Sejak awal tahun 1970 an, masalah ekologi mulai menembus dunia moral. Masalah ekologi umumnya terkait dengan krisis moral dalam upaya memahami unsur saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Manusia membuat permenungan- permenungan keadaan lingkungan hidupnya. 

Bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap lingkungannya? 


Dalam permenungan manusia mencoba untuk lebih mengerti tentang lingkungannya dan selanjutnya mencoba untuk lebih memahami dengan segenap akal budi dan nuraninya serta mencoba dengan pengahayatannya, lingkungan memberikan manfaat- manfaat apa bagi hidupnya. Dengan demikian manusia mendapat kesadarannya dalam posisi mana keberadaan dan pengaruh lingkungan bagi kehidupan manusia. Dari permenungannya manusia mendapatkan kesadaran hakiki yang mampu melihat hubungan keterlibatan manusia dengan lingkungan hidupnya. 

Moral lingkungan hidup pada dasarnya bermula dari kesadaran hakiki manusia dalam menghadapi situasi hidup dan lingkungannya. Manusia secara lebih baik telah menyadari dampak dan bahaya penggarapan alam semesta. Penggarapan ini seiring dengan teori - teori ekonomi dan teologi yang dominan dalam abad 19 dan 20. 


Pengusaha ekonomi dan politik memanfaatkan manusia yang dianggap lemah tidak berdaya untuk menggarap dan memporak-porandakan kekayaan-kekayaan alam. Keuntungan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadi dan kelompok- kelompok tertentu dengan segala keinginan-keinginannya. Moral lingkungan hidup menyadari adanya kesalahan-kesalahan sikap dasar manusia terhadap lingkungan hidupnya. Banyak kalangan berpendapat bahwa manusialah yang memiliki nilai intrinsik. Hanya manusialah yang layak memperolah pertimbangan moral, sedangkan penghuni alam lainnya hanya memiliki nilai instrumental sebagai sarana dalam pencapaian tujuan-tujuan hidup manusia. Ini tidak terlepas dari pikiran manusia yang bercorak antroposentrik. Kesadaran ini mendorong manusia untuk membentuk sistem penilaian ekologis dalam bersikap dan bertindak secara bertanggung jawab. Kesadaran ini terkait dengan penemuan kembali nilai alam semesta. Pola pikir ini menyoroti sikap manusia, persiapan teknologi dan nilai-nilai yang seharusnya menuntun sikap dan perilaku manusia.


Sejumlah pengamat berpendapat bahwa kerusakan lingkungan alam dan pembabatan hutan yang berlebihan merupakan sikap dan perilaku tidak bertanggung jawabnya manusia yang memiliki kewajiban untuk mengawetkan sistem ekologi. Begitu satu unsur dirusak maka hancurlah sistem ekologi yang sejak dunia diciptakan sesuai dengan kodratnya. 

Sistem ekologi merupakan seperangkat organisme dan lingkungan yang saling terkait dan tergantung. Ini dapat dilukiskan dalam keadaan sebuah danau. Keberadaan ikan sangat tergantung dengan organisme-organisme dalam air danau lainnya. Tiap unsur organisme dalam air tersebut saling ketergantungan satu dengan yang lainnya. Keadaan ini menyadarkan manusia bahwa mereka merupakan bagian dari sistem ekologi yang lebih luas. Kesadaran ini mendorong kepada siapa saja yang mencintai lingkungan hidup dan turut ambil bagian dalam tanggung jawab moral dalam menjaga keseimbangan ekologis sehingga menghasilkan kesejahteraan yang bukan hanya monopoli manusia tetapi juga ciptaan lain.

Ilmu pengetahuan yang berkembang selama 4 abad menggaris bawahi gagasan Galileo : “Kitab suci meghajarkan bagaimana menuju surga, bukan bagaimana langit bergerak”. Tak heran kalau kitab suci tidak mengupas masalah astro fisika atau gejala-gejala alam semesta. Kitab suci bukan buku ilmiah yang mengisahkan sejarah setiap pengada, melainkan kitab yang mengajarkan hidup dengan adil. 

Lalu bagaimana kita dapat berbicara tentang kosmos dan lingkungan hidup dalam cahaya Kitab Suci? 

1. Perjanjian Lama (PL) 


Dalam Perjanjian Lama (PL),  kosmos dipandang sebagai yang berbeda dari Tuhan. Dunia dilukiskan sebagai keadaan keindahan yang tidak sanggup diungkapkan secara penuh oleh gaya sastra, mazmur-mazmur dan kebijaksanaan. Kosmos dan segala kandungannya diciptakan oleh sabda Tuhan. Dalam Perjanjian Lama bukan faham filosofis yang diterima karena peristiwa-peristiwa penciptaan disingkapkan kepada pemikiran manusia. Gagasan ini adalah ajaran iman yang keberadaannya terus menerus diperteguh pada waktu berhadapan dengan percobaan-percobaan baru. 

Tradisi Yahwista (Y) melukiskan kosmos sebagai peristiwa yang tertuju pada Yahweh sebagai tempat kehadiran Tuhan bagi manusia. Manusia mempunyai hubungan yang tak terpisahkan dengan alam semesta. Manusia hidup berdekatan dengan hewan (Kej 2:19-20).

Tradisis Priester (P) Kej 1:1; 2:4a, mengisahkan asal kompos untuk menunjukkan struktur keberadaan manusia dan dunia. Ada 3 yang dititik beratkan oleh tradisi Priester sehubungan dengan peristiwa penciptaan dunia, yaitu: tatanan, waktu dan hidup. Sorotan atas Kejadian 1-11 sebenarnya bukan gagasan Creatio Ex Nihilo, melainkan tindakan keteraturan Yahweh. Sekarang tatanan kosmos dikaitkan dengan tatanan moral dan sosial; ketidakteraturan moral; kekerasan, air bah.

Mazmur 19:2-5b adalah pewartaan tentang kosmos sebagai buah tangan Tuhan. (Bdk Sir 16:2b, 42:15-25) langit dan binatang- binatang termasuk mengidungkan dan memberi kesaksian karya penciptaan. Kosmos bukan hanya undangan untuk percaya kepada Allah sebagai pencipta melainkan desakan untuk terus menerus memuji dan memuliakan Tuhan melalui doa-doa. Kosmos bukan hanya mengungkapkan kebesaran Tuhan tetapi mendorong manusia untuk beriman dan memuji Tuhan. 


2. Perjanjian Baru (PB) 


Perjanjian Baru tidak memberikan suatu konsep kosmologis khusus sebagai bagian pewartaan integral dari injil. Gambaran tentang kosmos dalam Perjanjian Baru di pandang sebagai sarana untuk mewartakan Injil. 

Maksudnya, Perjanjian Baru tidak berbicara tentang kosmos dirinya, sebagai benda belaka, namun pembicaraan tentang kosmos dikaitkan dengan dunia manusia, tempat Tuhan bertindak dan manusia melakukan sesuatu secara bertanggung jawab. 

Dunia sebagai penciptaan yang dimensi Kristosentris. 


Dunia dan sejarah selalu berada di bawah kuasa tindakan penciptaan dan penyelamatan Illahi. Kodrat dan kebebasan manusia kembali memasuki tingkat penciptaan Illahi yang menyelamatkan. Ditegaskan pengakuan iman akan penciptaan langit dan bumi oleh Tuhan (Kisah 17:24; 4:24). Penciptaan berdimensi Kristosentris (Kolose 1:15-17) tidak ada unsur satu pun di atas permukaan bumi yang dapat terpisah dari kuasa Kristus. Tuhan telah menciptakan dunia dalam Kristus sebagai titik tolak keteguhan, dasar primordial dan kekal awal dan akhir (Wahyu 1:18). Kalau begitu dunia tidak bisa dipandang lepas dari Tuhan dalam Yesus Kristus. Dunia kita terus menerus dilalui dan diresapi kekuatan Illahi yang selalu menang. 

Dunia tidak dapat dipandang dalam kekuatannya sendiri namun selalu terkait dengan hubungan asalnya yang dinamis dengan Tuhan. Kritosentrisme akan semesta menegaskan kebenaran mutlak alam semesta yang tidak terbatas pada fungsi-fungsi, seperti ilmu-ilmu pengetahuan lain. Tuhan berkarya dalam kedalaman tenaga-tenaga alam dan tersembunyi dalam keputusan-keputusan manusia. 

Bagaimanakah seharusnya manusia bersikap terhadap alam semesta? 



Karena semua yang diciptakan Allah adalah baik maka perlu diterima dengan syukur sebab semuanya dikuduskan oleh Firman Allah dan doa. Tanggung jawab orang Kristen secara khusus dihadapan dunia terutama melihat apa yang dikehendaki Allah. Dengan demikian orang Kristen mengubah bentuk dunia dari dalam, menghadapi semua keadaan di dunia oleh Roh Allah. Untuk mengubah membebaskan dunia, umat Allah harus melakukan tindak pembaharuan hati dan dengan tingkah laku sesuai dengan kehendak Allah. Dalam surat- Nya kepada Jemaat di Roma 8:18-27, Paulus menyoroti dunia yang diciptakan Tuhan sebagai suatu keseluruhan. Pandangan dan sikap manusia terhadap alam semesta berdimensi Antroposentrik. Kendati demikian bukanlah Antriposentrik Subyektif yang berfahamkan bahwa alam semesta memiliki nilai sejauh menjamin keuntungan manusia. Tempat kita dalam tatanan penciptaan ditentukan oleh dan hubungan manusia dengan segala ciptaan dalam keterkaitannya dengan Tuhan. Kita seharusnya memandang segala sesuatu di atas permukaan bumi sebagai sarana untuk menemukan tujuan tertinggi untuk memuji dan memuliakan Tuhan bukan untuk manusia. Seluruh peristiwa penciptaan ditandai dengan awal yang menggembirakan. Sejak semula Tuhan telah menyatakan keindahan ciptaan-Nya. Jagad raya terang, lautan, tumbuhan, hewan, semua diciptakan-Nya dalam keadaan baik (bdk Kej 1). Semua unsur dalam alam saling terkait dalam hubungan secara organix.





Krisis lingkungan hidup



III. Krisis Lingkungan Hidup 


Krisis lingkungan hidup telah mengancam kenyamanan tempat tinggal manusia. Kerusakan lingkungan hidup telah membuat ekologi (keseimbangan lingkungan) terganggu, sehingga hubungan organisme antara unsure alam yang satu dengan yang lain mengalami destabilisasi (ketidak stabilan). Dengan situasi demikian maka alam dengan hukumnya sendiri sedang mengalami penyesuaian- penyesuaian. Bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi dan suhu panas bumi yang semakin tinggi merupakan akumulasi dari situasi unsur alam, planet dan hutan dan  sebagainya. Yang sedang mengalami perubahan-perubahannya situasi labil dan rawan) karena kerusakan- kerusakan yang dialami. 

Sebenarnya ini semua merupakan dampak dari ulah manusia. 

Ternyata pengelolaan lingkungan hidup secara bertanggung jawab belumlah menjadi “Budayanya” tanpa penghargaan dan penghormatan hak-hak hidup makhluk ciptaan lain. Manusia berlomba-lomba menguras isi perut bumi, hutan dan kandungan- kandungan lainnya untuk memenuhi nafsu dan kepentingan- kepentingannya sendiri.

Krisis ini menuntut keseriusan berfikir dan bertindak demi masa depan yang lebih baik dan jauh dari bencana-bencana yang memprihatinkan. Dalam banyak hal manusia perlu membenahi diri dan bertindak secara arif agar dapat menghindari dari keadaan- keadaan yang menyengsarakan diri sendiri dan generasi berikutnya. 

Persediaan sumber alam harus memadai dan dirawat secara baik dan bertanggung jawab supaya manusia-manusia yang akan lahir tidak menjadi korban kelaparan, bencana, dan sebagainya karena ulah generasai yang lalu yang tidak bertanggung jawab dan ceroboh serta egois. Sejak penerbitan hasil penyelidikan pertama “kelompok Roma” mengenai” batas pertumbuhan” Tahun 1972 tampak bahwa bukan hanya banyaknya masalah ekologi yang muncul melainkan juga keruwetan-keruwetan masalah terus bertambah kompleks. Ancaman terhadap masa depan bumi dan umat manusia semakin serius. Mula - mula yang menjadi masalah pokok kelaparan karena kurangnya bahan makanan dan sumber makan dipermukaan bumi. Akibatnya timbul kelaparan diberbagai belahan bumi. Kini yang menjadi masalah hangat bukan hanya kelaparan, melainkan semakin memanasnya suhu bumi serta semakin memanasnya lubang lapisan ozon yang disebabkan oleh penebangan dan pembakaran hutan tropis secara berlebihan. (a.1 pembukaan lahan perkebunan). Hujan yang mulai berkurang yang menyebabkan kawasan pertanian mulai mengering. Tanah pecah dan hasil bumi terus merosot. Malah dalam waktu 20 tahun lagi konferensi “ Lingkungan hidup dan perkembangan” yang diselenggarakan oleh PBB pada tahun 1992 di Rio Janeiro (Brazilia), kembali menegaskan bahwa dunia kita sedang ditimpa keadaan yang mencemaskan banyak orang. Ratusan juta manusia belum lepas dari cengkraman kelaparan, hingga kini belum tampak perbaikan keadaan. Peredaran musim mengalami perubahan. Persediaan air minum semakin panas. Krisis sedang melanda bumi dan segala kandungannya.







Tinjauan Biblis (Perspektif agama katolik terhadap pelestarian alam dan perlindungan hutan2)

Perspektif agama katolik terhadap pelestarian alam dan perlindungan hutan


II. Tinjauan Biblis 



Kejadian 1 : 1 - 27 (Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya). Dalam perikop ini dikisahkan bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya termasuk didalamnya diciptakan manusia. Pada hari pertama sampai hari kelima Allah menciptakan bumi dengan segala isinya (cakrawala, matahari, tumbuhan, binatang- binatang). Dan hari keenam manusia baru diciptakan manusia diciptakan sebagai citra Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan mereka “Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan- ikan dilaut dan burung-burung diudara dan atas segala binatang yang merayap dibumi.” (Kejadian 1 : 28) 

Berfirmanlah Allah : “Lihatlah, aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji diseluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji. Itulah akan menjadi makananmu.” (Kejadian 1 : 29) 

Kejadian 3 : 1 - 24 (manusia jatuh kedalam dosa yakni Adam dan Hawa) 

Kejatuhan manusia pertama dalam dosa dilukiskan dengan sangat bagus dalam kisah ini. Adam dan Hawa diciptakan Allah sebagai manusia pertama. Hawa diciptakan Allah yang diambil dari tulang rusuk adam. Adam dan Hawa ditempatkan didalam Eden dan diperintahkan oleh Allah bahwa “ Semua pohon dalam tanaman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas (Kej 3 : 16) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itulah janganlah kau makan buahnya sebab pada hari itu engkau memakannya engkau akan mati” (Kej 3 : 17) itulah situasi ditaman Eden, dengan bahagianya si Adam dan Hawa hidup Bersama. 

Kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa dimulai dari godaan si ular sebagai binatang paling cerdik yang diciptakan Tuhan. Si ular 
berkata kepada perempuan itu : “Tentu Allah berfirman, semua 
pohon dalam tanaman ini jangan kamu makan buahnya bukan ?”lalu sahut perempuan kepada si ular itu : “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kamu makan, tetapi tentang buah yang ada ditengah- tengah taman Allah Berfirman : Jangan kamu makan ataupun coba buah itu, nanti kamu akan mati (Kej 3 : 1 - 3) 

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu : “sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat (Kej 3 : 4 - 6). 

Setelah Hawa makan buah yang terlarang makan buah itu juga dibagikan kepada si Adam suaminya. Dan setelah makan buah itu maka “terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang lalu menyemat daun ara dan membuat cawat” (Kej. 
3 : 71). 

Kisah penciptaan secara jelas dapat kita pahami bahwa bagaimana Allah sebenarnya secara mengagumkan telah mempersiapkan hal- hal yang perlu bagi manusia. Manusia diciptakan setelah semua perangkat-perangkat, sarana dan prasarana telah ada, sehingga manusia dapat melangsungkan hidupnya. Bumi dan segala isinya (hewan dan tumbuhan), matahari, bulan, bintang dan seluruh planet yang ada merupakan “Gratia” merupakan pemberian Tuhan untuk semua manusia secara cuma-cuma. 

Perintah Tuhan untuk menguasai bumi dan menaklukannya sebenarnya mengandung arti untuk mengatur secara baik dan bijak untuk keperluan kehidupan manusia, yang harus dijaga kebaikannya seperti Allah menciptakan bumi dan isinya serta manusia “baik adanya.” 

Kisah kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa perlu dilihat sebagai bentuk pembangkangan manusia terhadap kehendak Allah. Adam dan Hawa tidak lagi menuruti kehendak Allah karena  
mengikuti kemauannya sendiri atas bujukan iblis yang dilukiskan 
sebagai ular penggoda dan perayu maut. Maka setelah mereka makan buah terlarang, Adam dan Hawa menjadi telanjang dan mereka mengambil daun pohon ara dan membuat cawat. Gambaran ini mau mengatakan bahwa ketelanjangan mereka berdua sebagai kiasan bahwa mereka kehilangan kemuliaannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan diantaranya makhluk yang lain, karena pembangkangan yang mereka lakukan. Dan segera mengambil daun pohon ara untuk menutupi merupakan isyarat akan adanya penyerahan dan pertobatan manusia atas pertolongan Allah sendiri.

Setelah jatuh dalam dosa manusia diusir dari Taman Eden. Mereka harus mengolah tanah dan memeras keringat demi sesuap makanan. Namun Tuhan sendiri telah berikrar untuk tidak mengutuk semesta karena ulah manusia (Kej : 21). Manusia tetap memiliki hubungan dengan alam semesta walaupun teteap jatuh dalam kedosaan. Disamping itu sebagai prokeranis Allah, manusia harus bekerja untuk mengolah alam dengan bijak dan baik.
















Pendahuluan (Perspektif agama katolik terhadap pelestarian alam dan perlindungan hutan1)


I. Pendahuluan 


Membincangkan upaya pelestarian alam dan industri hutan berarti kita sedang berbicara tentang peradaban bangsa manusia dalam memandang, memahami dan menempatkan kedudukan dan peran alam semesta dalam kaitannya dengan kehidupan manusia itu sendiri. Manusia mikrokosmos dalam kenyataannya hidup dalam dunia jagad besar makrokosmos. Keberadaan manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan namun keduanya bias dibedakan. Manusia dan alam jelas berbeda. Manusia sebagai homosapiens makhluk berakal budi yang menggunakan potensi-potensi alam untuk kelangsungan hidupnya dan alam menyediakan potensi-potensi/ kandungan dapat dimanfaatkan manusia dalam kelangsungan hidupnya. 

Yang sudah sedemikian rupa sejak awal jagan dara diciptakan oleh sang pencipta. 

Alam dan hutan merupakan anugerah sang Pencipta yang didalamnya mengandung unsur-unsur hayati dan potensi-potensi yang sangat diperlukan manusia dalam melangsungkan kehidupannya. Alam yang didalamnya terkandung material-material tambang dan beraneka macam tanaman dan hewan sungguh sangat besar memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Laut kita yang sangat luas yang didalamnya mengandung biota-biota baik tumbuhan dan berbagai jenis ikan setiap harinya menyediakan berjuta ton makanan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia sehingga kehidupannya sejahtera.

Betapa kaya rayanya tanah air kita sebagai anugerah Sang Pencipta untuk dapat kita manfaatkan, kita jaga dan kita lestarikan potensi-potensi alam yang ada dan perlu juga kita gunakan sehemat- hematnya supaya bisa dinikmati lebih lama oleh generasi-generasi yang akan datang.

Bagaimana kenyataan alam dan lingkungan saat ini?


Tidak ada diantara kita yang satupun tidak menyatakan bahwa kita sedang dihadapkan pada kenyataan bahwa alam dan hutan kita sedang mengalami kerusakan-kerusakan serius dan mengerikan karena ulah kita yang kurang bertanggung jawab. Barangkali bisa dikatakan bahwa saat ini merupakan saat yang tepat kalau kita dengan segala daya dan upaya mencoba menempuh jalan bagaimana alam dan hutan kita bisa dijaga dan dilestarikan. Sebenarnya tidak ada kata terlambat bagi siapapun yang memiliki sikap optimis untuk melakukan actions/tindakan nyata dalam menempuh upaya-upaya diatas.

Dengan harapan tindakan nyata oleh berbagai pihak dalam masyarakat dan pemerintah khususnya sebagai pengambil kebijakan dalam meregulasi dan mengatur secara optimal dan maksimal dalam hal penciptaan lingkungan alam dan perlindungan hutan demi terciptanya ekologi kehidupan yang lebih baik.